Home Daerah

Festival Sandur dan Pesta Rakyat HJB ke-349, Ribuan Warga Padati Alun-Alun Bojonegoro, Pemkab Sediakan 10.000 Porsi Makanan Gratis

by Pena Realita - 26 Oktober 2026, 00:08 WIB

BOJONEGORO | Penarealita.com – Ribuan warga memadati Alun-Alun Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (24/10/2026), untuk menikmati Festival Sandur dan Pesta Rakyat dalam rangkaian Bojonegoro Bahagia Car Free Night memperingati Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro (HJB) ke-349. Perayaan tersebut berlangsung meriah dengan menghadirkan pertunjukan kesenian tradisional, beragam perlombaan, pameran karya pelajar, bazar UMKM lokal, hingga pembagian sekitar 10.000 porsi makanan gratis bagi masyarakat.

Kegiatan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat ini tidak sekadar menjadi hiburan rakyat, tetapi juga menjadi momentum untuk melestarikan kesenian tradisional Sandur sekaligus mendorong kreativitas generasi muda dan pertumbuhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Bojonegoro.

Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, mengatakan Festival Sandur merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah bersama masyarakat untuk menjaga tradisi dan melestarikan warisan budaya yang menjadi identitas daerah.

“Sandur merupakan salah satu tradisi kesenian yang menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk merawat tradisi, khususnya peninggalan para pendahulu yang menggambarkan identitas Kabupaten Bojonegoro,” ujarnya.

Menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda. Karena itu, ia berharap masyarakat terus menjaga persatuan, memperkuat sinergi, dan bersama-sama membangun Bojonegoro agar semakin maju serta membanggakan.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Setyo Wahono juga menyampaikan apresiasi kepada para pelajar yang berhasil meraih prestasi dalam berbagai perlombaan. Ia berharap capaian tersebut menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus mengembangkan kemampuan, meningkatkan daya saing, dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, Lukiswati, menjelaskan bahwa kesenian Sandur Bojonegoro telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018.Penetapan tersebut menjadi pengakuan atas nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang terkandung dalam kesenian Sandur. Oleh karena itu, keberlangsungannya perlu dijaga melalui pembinaan, pengenalan kepada generasi muda, serta regenerasi pelaku seni.

Festival Sandur tahun ini juga menjadi tindak lanjut dari workshop pagelaran Sandur yang diselenggarakan pada 4–5 Agustus 2026 di Gedung Serba Guna Kabupaten Bojonegoro.

Kegiatan workshop tersebut melibatkan guru dan siswa dari 50 SMP dan MTs se-Kabupaten Bojonegoro. Para peserta mendapatkan pembelajaran mengenai sejarah, filosofi, hingga praktik pementasan Sandur secara langsung bersama seniman dan narasumber.

Melalui kegiatan tersebut, pemerintah daerah berharap pelestarian Sandur tidak hanya berlangsung ketika festival digelar, tetapi juga dapat berkembang di lingkungan pendidikan melalui kegiatan seni dan ekstrakurikuler di sekolah.

Festival Sandur dan Pesta Rakyat HJB ke-349 menghadirkan beragam kegiatan yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat.

Di bidang pendidikan dan seni, kegiatan tersebut meliputi lomba mewarnai bertema Sandur tingkat RA dan TK yang diikuti 65 peserta, lomba tembang Sandur tingkat SMP dan MTs dengan 19 grup peserta, serta pameran karya siswa dari jenjang SD hingga SMA/SMK sederajat.

Pertunjukan Sandur juga diselenggarakan dalam tiga sesi, yakni pagi, sore, dan malam hari, sehingga masyarakat memiliki kesempatan untuk menyaksikan kesenian tradisional tersebut sepanjang rangkaian acara.

Selanjutnya, penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba dilakukan secara simbolis oleh Bupati Setyo Wahono, Wakil Bupati Nurul Azizah, Sekretaris Daerah Edi Susanto, serta jajaran tamu undangan sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi dan kreativitas para peserta.

Dari sisi ekonomi kerakyatan, kegiatan ini turut melibatkan 202 pelaku UMKM lokal. Kehadiran bazar UMKM memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk sekaligus menjangkau konsumen di tengah tingginya kunjungan masyarakat.

Selain itu, Panitia juga menyediakan sekitar 10.000 porsi makanan gratis yang dapat dinikmati masyarakat. Sementara itu, lomba esai sejarah desa berhasil menarik perhatian dengan jumlah peserta lebih dari 200 orang.

Antusiasme warga yang memadati kawasan alun-alun menunjukkan bahwa perayaan hari jadi daerah dapat menjadi ruang pertemuan antara pelestarian budaya, pengembangan potensi generasi muda, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan hiburan rakyat.

Melalui Festival Sandur dan Pesta Rakyat tersebut, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro diharapkan terus memperkuat upaya pelestarian warisan budaya lokal sekaligus membuka ruang partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah.( Mbh Muri )

Editorial : Redaksi 

Share :

Populer Minggu Ini