Home Daerah

Proyek U-Ditch di Trucuk Jadi Monumen Kekacauan: Jalan Ditutup Total, Keselamatan Warga Dipertaruhkan

by Pena Realita - 26 Desember 2025, 00:11 WIB

BOJONEGORO || Penarealita.com – Proyek pemasangan U-Ditch di Desa Trucuk kembali menuai sorotan tajam. Apa yang terjadi pada malam hari ini bukan sekadar pekerjaan infrastruktur yang bermasalah, melainkan potret telanjang kegagalan tata kelola pembangunan yang dipertontonkan secara terang-terangan di hadapan warga.

Jalan utama desa ditutup total tanpa solusi yang layak. Akses publik lumpuh. Warga dipaksa “bertahan hidup” melewati jalur darurat yang sempit, berlumpur, licin, dan gelap gulita. Keselamatan publik seolah bukan prioritas, sementara akal sehat dikubur bersama tanah galian proyek.

Pekerjaan U-Ditch yang dilaksanakan CV Rendra Jaya menjelma menjadi pertunjukan chaos. Sekitar 10 titik galian dibuka hampir bersamaan oleh satu kontraktor, tanpa urutan kerja yang jelas, tanpa rekayasa lalu lintas, dan tanpa empati terhadap dampak sosial yang ditimbulkan.

Satu lubang belum ditutup, pekerjaan sudah berpindah ke titik lain. Belum selesai, ditinggalkan lagi. Pola kerja tambal sulam ini membuat Desa Trucuk menyerupai medan perang: acak, berbahaya, dan jauh dari kata manusiawi.

“Ini bukan pembangunan, ini kekacauan yang dilegalkan,” keluh seorang warga yang terpaksa melintas di jalur darurat.

Ironisnya, pekerjaan justru dilakukan pada malam hari, saat warga paling membutuhkan akses yang aman. Jalan alternatif yang di siang hari saja sudah tidak layak, berubah menjadi perangkap berbahaya di malam hari. Lumpur licin mengilap seperti sabun; sedikit salah pijak, kecelakaan siap menjemput.

Pertanyaan pun mengemuka dan terasa menampar logika publik: di mana pengawas proyek? Di mana dinas teknis yang seharusnya menjamin keselamatan warga? Ataukah semua ini sengaja dibiarkan, asalkan pekerjaan berjalan dan termin anggaran bisa dicairkan?

Jika satu CV dibiarkan membuka banyak titik galian sekaligus tanpa penyelesaian bertahap, maka yang rusak bukan hanya badan jalan. Wibawa pemerintah daerah ikut runtuh di mata masyarakat.

Papan peringatan memang berdiri, namun sebatas formalitas administratif. Tidak ada pengaturan lalu lintas yang manusiawi. Tidak ada jaminan keselamatan. Yang ada hanyalah pembiaran dan nihilnya rasa tanggung jawab.

Warga Trucuk akhirnya menjadi kelinci percobaan dari metode kerja yang sembrono dan serampangan. Proyek yang seharusnya memperbaiki drainase justru menguras kesabaran, mengorbankan kenyamanan, bahkan mempertaruhkan nyawa warga.

Jika pola pengelolaan proyek seperti ini terus dibiarkan, jangan salahkan rakyat bila menilai pembangunan hanya sebatas ritual “gali–tinggal–foto–lapor”, sementara penderitaan warga dianggap sebagai biaya sampingan.

Malam ini, di Desa Trucuk bukan sedang berlangsung pemasangan U-Ditch. Yang terjadi adalah pembongkaran fungsi jalan dan pembiaran risiko. Jalan desa menjadi korban, dan warga dipaksa menanggung akibat dari kelalaian yang sistemik.

Editorial : Redaksi 

Share :

Populer Minggu Ini