Home Daerah

Sambut Tahun Baru 2026, Disbudpar Bojonegoro Hadirkan Campursari, Sandur, hingga Wayang Thengul

by Pena Realita - 01-01-2026 09:14 WIB

BOJONEGORO || Penarealita.com – Malam pergantian tahun 2025 menuju 2026 dirayakan penuh suka cita oleh masyarakat Kabupaten Bojonegoro. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro menghadirkan beragam pertunjukan seni budaya tradisional sebagai alternatif hiburan yang sarat nilai edukasi dan pelestarian budaya, Rabu (31/12/2025) malam.

Di halaman SDN 1 Ngradin, Kecamatan Padangan, ratusan warga tampak antusias menyaksikan pagelaran seni tradisional campursari dan sandur. Kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga sebagai upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya lokal dalam menyambut datangnya Tahun Baru 2026.

Acara diawali dengan penampilan musik campursari oleh grup AK NADA. Grup yang terdiri dari 15 personel pemusik dan vokalis ini membawakan lagu-lagu bernuansa Jawa yang berhasil menghibur masyarakat lintas generasi. Di sela penampilan campursari, para pelajar se-Kecamatan Padangan turut menampilkan Tari Kembang Kahyangan, tarian khas kebanggaan Kabupaten Bojonegoro yang mendapat sambutan meriah dari penonton.

Puncak acara di Padangan ditandai dengan pagelaran seni sandur yang dibawakan oleh grup kesenian Sayap Jendela. Pertunjukan sandur berlangsung meriah dan sarat pesan budaya, sekaligus menjadi penampilan penutup yang paling dinantikan masyarakat.

Kepala Disbudpar Bojonegoro, Masirin, mengatakan bahwa perayaan pergantian tahun tidak harus identik dengan pesta besar atau kembang api.

“Pergantian tahun tidak harus dirayakan dengan pesta besar atau kembang api. Dengan kegiatan budaya seperti ini, suasana tetap meriah, aman, dan penuh nilai edukasi,” ujarnya.

Pimpinan Campursari AK NADA, Antok Kliwir, menambahkan bahwa keterlibatan grupnya dalam acara tersebut merupakan bagian dari upaya mengenalkan musik Jawa kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

“Melalui musik campursari, kami ingin menumbuhkan kecintaan terhadap musik Jawa. Musik tradisional ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan harus terus diwariskan,” ungkapnya.

Tak hanya di Padangan, seni tradisional Wayang Thengul juga menjadi suguhan spesial di Kecamatan Kanor. Pertunjukan yang digelar di halaman Kantor Kecamatan Kanor tersebut dipadati warga hingga meluber ke jalan depan kantor kecamatan.

Dalang Wayang Thengul, Hadi Sabdocarito (65) asal Desa Sobontoro, Kecamatan Balen, menjelaskan bahwa lakon yang dibawakan mengangkat sejarah daerah Bojonegoro. Cerita tersebut mengisahkan perjuangan Adipati Sosrodilogo bersama masyarakat dalam mengusir penjajah pada masa Perang Diponegoro.

Selain itu, pertunjukan campursari juga digelar di Lapangan Desa Sraturejo, Kecamatan Baureno. Penampilan grup Campursari Moro Seneng berhasil menarik perhatian warga Baureno dan sekitarnya. Kerumunan penonton memadati lapangan hingga ke sisi jalan desa, memberikan dampak positif bagi para pelaku UMKM yang berjualan di sekitar lokasi.

Siti Munawaroh (55), warga Desa Blongsong, Kecamatan Baureno, mengaku sengaja datang untuk menikmati hiburan tersebut.

“Saya datang ke lapangan ini memang untuk melihat acara campursari. Harapannya ke depan bisa semakin maju dan lebih sering diadakan,” tuturnya.

Melalui rangkaian pertunjukan seni budaya ini, Disbudpar Bojonegoro berharap perayaan pergantian tahun dapat menjadi momentum kebersamaan sekaligus penguatan identitas budaya daerah, tanpa mengesampingkan nilai keamanan dan ketertiban masyarakat.( Muri )

Share :

Populer Minggu Ini