Home Nasional

Serba-serbi Kisah Haru Jamaah Bojonegoro di Raudhah: Pertolongan Tanpa Diminta dari Pria Sudan

by Pena Realita - 06 Mei 2026, 13:37 WIB

MADINAH || Penarealita.com – Di tengah padatnya antrean jamaah di Raudhah, terselip kisah menyentuh dari rombongan KBIH Al Amanah asal Bojonegoro, Jawa Timur. Pengalaman ini menjadi potret nyata kehangatan, kepedulian, dan kemanusiaan tanpa batas di Kota Nabi.( 06/05/2026)

Malam itu, Raudhah dipadati jamaah yang ingin memanjatkan doa di salah satu tempat mustajab. Ali Imron bersama istrinya sempat tertahan karena perbedaan jadwal masuk antara jamaah pria dan wanita.

“Awalnya kami sempat bingung karena istri belum boleh masuk. Tapi tidak lama kemudian akses dibuka. Rasanya seperti jawaban dari kesabaran kami,” ujar Ali Imron.

Di tengah antrean, sebuah kejadian sederhana menjadi awal kisah mengharukan. Ali Imron menyerahkan plastik sandal ke belakang tanpa melihat. Ternyata, seorang pria asal Sudan yang menerimanya.

“Tanpa bicara, dia langsung bantu melepas sandal saya dan menatanya rapi. Saya kira itu istri saya, ternyata orang lain,” kata Ali Imron.

Tak berhenti di situ, pria tersebut tetap berada di sampingnya. Ia bahkan ikut membantu mendorong kursi roda saat akses menuju Raudhah dibuka.

“Di tengah sesak, seperti ada jalan yang dilapangkan. Saya bisa sholat sunnah dan berdoa dengan tenang. Saya sampai menahan haru,” ungkapnya.

Setelah ibadah, kendala bahasa sempat membuat situasi sedikit tegang. Pria Sudan itu terlihat khawatir karena mengira Ali Imron terpisah dari istrinya. Ia lalu berinisiatif mencari bantuan hingga akhirnya bertemu jamaah lain yang bisa membantu komunikasi.

Sesudah sang istri ditemukan, suasana kembali hangat. Ali Imron berulang kali mengucapkan terima kasih.

“Dia hanya tersenyum. Bahkan sebelum berpisah, dia mencium kening saya. Itu sangat menyentuh,” tutur Ali Imron.

Tak hanya itu, pria tersebut sempat kembali hanya untuk memastikan satu hal kecil—memberi tahu bahwa sandal telah disimpan dengan aman.

Kisah Lain dalam Rombongan
Selain itu, rombongan KBIH Al Amanah juga mengalami kejadian lain yang tak kalah mengesankan. Seorang jamaah lanjut usia, Mbah Suminah asal Sitiaji, sempat tertinggal saat ziarah di kebun kurma. Berkat kekompakan rombongan, ia berhasil ditemukan dan kembali dengan selamat.

Kisah ini menjadi bukti bahwa di Tanah Suci, sekat perbedaan seakan hilang. Kepedulian dan kasih sayang hadir tanpa mengenal bahasa maupun latar belakang.

“Di sini, kita bukan hanya beribadah. Kita juga belajar arti kemanusiaan yang sesungguhnya,” pungkas Ali Imron.

Penulis: Ali Imron 

Editorial: Redaksi 

Share :

Populer Minggu Ini