BOJONEGORO || Penarealita.com – Tekanan publik dan sorotan media akhirnya memaksa kontraktor pelaksana proyek drainase di Desa Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, angkat tangan. CV Rendra Jaya memilih membongkar kembali dan memasang ulang material U-Ditch yang sebelumnya menuai protes keras dari warga karena dinilai dikerjakan secara asal-asalan dan tidak sesuai spesifikasi teknis.
Langkah bongkar ulang tersebut dilakukan setelah gelombang kritik dari masyarakat dan pemberitaan media mencuat luas. Proyek yang sebelumnya terkesan dipaksakan itu kini dibongkar kembali, diduga kuat sebagai upaya kontraktor untuk menghindari sanksi berat, termasuk ancaman pemutusan kontrak hingga masuk daftar hitam (blacklist) penyedia jasa konstruksi pemerintah.
Sebelumnya, proyek pemasangan saluran drainase ini menjadi buah bibir warga Desa Trucuk. Sejumlah kejanggalan teknis dilaporkan, mulai dari pemasangan U-Ditch yang tidak presisi, lantai dasar yang tidak rata, hingga dugaan penggunaan metode kerja yang mengabaikan standar mutu konstruksi.
Sorotan media yang masif membuat persoalan tersebut akhirnya sampai ke dinas terkait. Kondisi ini diduga memicu kekhawatiran pihak rekanan tidak dapat lagi mengikuti lelang proyek pemerintah di masa mendatang apabila pekerjaan mereka dinilai cacat mutu atau berujung sanksi administratif.
Pantauan di lokasi pada Kamis (25/12/2025) menunjukkan sejumlah pekerja tampak sibuk mengangkat dan membongkar rangkaian U-Ditch yang sebelumnya telah terpasang, untuk kemudian dilakukan pemasangan ulang.
Namun, langkah tersebut justru memunculkan tanda tanya besar di tengah publik: mengapa perbaikan baru dilakukan setelah proyek menuai kecaman, bukan sejak awal pelaksanaan.
Pengamat kebijakan publik menilai tindakan “bongkar-pasang” ini lebih mencerminkan kepanikan kontraktor ketimbang komitmen terhadap kualitas pekerjaan.
Menurutnya, perbaikan dilakukan semata-mata demi menjaga citra di mata Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan menghindari sanksi administratif, bukan karena kesadaran akan tanggung jawab terhadap uang rakyat.
Sementara itu, warga Desa Trucuk menyambut langkah perbaikan tersebut dengan sikap waspada. Mereka menegaskan tidak akan lengah dan akan terus mengawasi proyek hingga benar-benar selesai dan berfungsi optimal.
“Kami tidak mau proyek ini cuma asal jadi. Kalau tidak disorot media, kemungkinan besar tetap dibiarkan bermasalah. Kami akan kawal terus sampai benar-benar sesuai,” ujar salah seorang warga.
Kasus proyek drainase di Desa Trucuk ini menjadi peringatan keras bagi para kontraktor di Bojonegoro. Di era keterbukaan informasi dan pengawasan publik yang semakin kuat, kualitas proyek pemerintah tak lagi bisa ditutup-tutupi. Masyarakat kini semakin kritis dan siap bersuara ketika uang rakyat diduga dikerjakan secara serampangan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak CV Rendra Jaya maupun dinas terkait belum memberikan pernyataan resmi terkait dugaan kesalahan teknis dan alasan pembongkaran ulang proyek tersebut.( Red )