BOJONEGORO || Penarealita.com - Usianya baru 12 tahun, tetapi Haura Taha Awalya mampu menunjukkan keberanian dan daya saing di arena nasional. Tampil pada Kejurnas Indonesia Muaythai Championship, yang mempertemukan atlet Muaythai dari berbagai daerah di Indonesia, Haura berhasil meraih medali emas kelas U-14 42 kilogram setelah menundukkan Aqsa Keyanna Nezar dari Jawa Barat pada partai final.
Prestasi Haura menjadi bagian dari torehan positif kontingen Muaythai Kabupaten Bojonegoro. Dari enam atlet yang dikirim untuk mengikuti kejuaraan tersebut, Bojonegoro berhasil membawa pulang lima medali, terdiri atas satu emas, dua perak, dan dua perunggu. Raihan tersebut menempatkan Bojonegoro sebagai salah satu daerah yang mampu menunjukkan daya saing dalam kompetisi Muaythai tingkat nasional.
Yang membuat pencapaian Haura semakin menarik, ia sebenarnya berada pada kelompok usia 12 tahun. Secara kelas pertandingan, Haura semestinya tampil pada kelas 40 kilogram. Namun, karena kuota atau slot peserta pada kelompok usia dan kelas tersebut telah penuh, Haura kemudian bertanding pada kelas U-14 42 kilogram.
Perubahan kelas tersebut tidak membuat Haura kehilangan fokus. Ia mampu menjalani pertandingan hingga babak final dan mengamankan kemenangan atas atlet Jawa Barat. Keberhasilan tersebut sekaligus menjadi pengalaman penting bagi Haura dalam menghadapi persaingan dengan atlet yang berada pada kelompok usia lebih tinggi.
Selain Haura, dua medali perak turut memperkuat perolehan kontingen Bojonegoro. M. Dodi Oktadiansyah berhasil meraih medali perak pada kelas U-24 51 kilogram, sedangkan Dava Daniel Alam memperoleh medali perak pada kelas U-18 71 kilogram.
Dua medali perunggu kemudian dipersembahkan Devira Fahrezia Putri pada kelas U-24 63,5 kilogram dan Dava Daniel Alam pada kelas U-24 74 kilogram.
Dengan demikian, enam atlet yang mewakili Bojonegoro berhasil mengumpulkan lima medali dalam ajang yang mempertemukan atlet dari berbagai wilayah Indonesia tersebut. Perolehan itu menunjukkan bahwa keberhasilan dalam kompetisi tidak hanya bergantung pada jumlah atlet yang diberangkatkan, tetapi juga pada kesiapan teknik, kondisi fisik, mental bertanding, serta strategi yang dipersiapkan sebelum memasuki arena.
Bagi pembinaan Muaythai Bojonegoro, keberhasilan Haura memiliki arti tersendiri. Prestasi tersebut memperlihatkan adanya potensi atlet usia muda yang dapat dikembangkan melalui pembinaan secara konsisten. Pengalaman bertanding melawan atlet dari luar daerah juga menjadi bagian penting dalam membentuk mental kompetitif sekaligus mengukur kemampuan atlet secara lebih objektif.
Kejuaraan tingkat nasional juga memberikan ruang evaluasi bagi para atlet dan tim pembina. Setiap pertandingan dapat menjadi bahan untuk melihat aspek yang sudah berjalan baik maupun bagian yang masih perlu diperbaiki, mulai dari teknik, fisik, strategi, hingga pengendalian mental selama pertandingan.
Sementara itu, Jawa Timur berhasil menjadi juara umum dengan koleksi 88 medali. Capaian tersebut menggambarkan kuatnya pembinaan Muaythai di tingkat provinsi sekaligus menjadi tantangan bagi daerah-daerah di Jawa Timur, termasuk Bojonegoro, untuk terus meningkatkan kualitas atlet dan sistem pembinaannya.
Lima medali yang diraih Bojonegoro akhirnya bukan hanya menjadi catatan prestasi dalam satu kejuaraan. Hasil tersebut dapat menjadi pijakan untuk memperkuat proses regenerasi, meningkatkan kualitas latihan, serta memberikan lebih banyak pengalaman kompetitif kepada atlet-atlet muda.
Keberhasilan Haura yang masih berusia 12 tahun juga menjadi sinyal bahwa proses regenerasi Muaythai di Bojonegoro memiliki potensi untuk terus berkembang. Dengan pembinaan yang terarah, kompetisi yang berkelanjutan, serta evaluasi secara konsisten, atlet-atlet muda Bojonegoro diharapkan mampu terus meningkatkan prestasi hingga ke level regional, nasional, bahkan internasional.
[Red]